Tulisan ini diambil dari Buku Membangun Paradigma Baru : 30 tahun Universitas Surabaya 1968-1998 dengan judul ” Anomali Kampus Ngagel” yang dikarang oleh Hotman M. Siahaan dan Tjahjo Purnomo W, pada hal. 39-43

ANOMALI KAMPUS NGAGEL (Bagian 2)

Keputusan untuk pindah ke kampus Ngagel merupakan terobosan berani. Ini boleh dikata merupakan salah satu kepeloporan Ubaya sebagai PTS menempatkan kampusnya di wilayah timur Surabaya. Ada visi jauh ke depan yang melandasi keputusan itu, terutama berkaitan pengembangan Kota Surabaya. Outline Plan Surabaya – dihasilkan Tim Master Plan Surabaya, disahkan DPRD-GR Kotamadya Surabaya pada 23 November 1970, merupakan pengarah dan pengendali pembangunan Kota Surabaya yang kemudian ditindaklanjuti dengan Master Plan dan Detailed Plan- telah menetapkan kawasan Sukolilo sebagai wilayah perluasan pusat fasilitas perguruan tinggi dan lembaga ilmiah (Sub Bagian Humas dan Protokol Kotamadya Surabaya, 1980:159, 166).

Perguruan tinggi negeri yang telah menempatkan pengembangan kampusnya ke kawasan Sukolilo, wilayah timur Surabaya, pada era 1970-an itu baru ITS Surabaya. Sedangkan PTS lainnya yang telah memiliki kampus sendiri, seperti Universitas Kristen Petra dan Universitas Katolik Widya Mandala, berada di tengah kota, UK Petra Jl. Kalianyar (yang kemudian membangun kampus di Jl. Siwalankerto), sedangkan Unika Widya Mandala di Jl. Dinoyo. Perguruan tinggi swasta yang belum memiliki kampus, memanfaatkan gedung sekolah dasar dan menengah di tengah kota pada sore dan malam hari.

Rasa bangga sivitas akademika di tengah himpitan keprihatinan itu sangat menolong Ubaya untuk bisa terus mengepakkan sayapnya. Apalagi pada periode 1973-1975 ini merupakan puncak krisis, dan bisa dikatakan masa “to be or not to be“, terutama 1974. Kehidupan Ubaya yang semula penuh pengharapan tiba-tiba pupus. Jumlah mahasiswa menurun drastis, padahal sumber penghasilan utama berasal dari sumbangan orangtua mahasiswa baru, dan uang kuliah mahasiswa (sumbangan pembinaan pendidikan/SPP). Mahasiswa baru pada 1974 hanya 53 orang.

Keadaan ini membuat Rektor Boedisoesetya gundah. Dalam Pidato Saptawarsa Natalis, 3 Mei 1975, ia mengungkapkan, “Perkembangan yang membuat kami prihatin adalah mengenai jumlah mahasiswa”. Pada 1973, jumlah mahasiswa pada ketiga fakultas tercatat 402 orang, dan pada 1974 tersisa 329 orang – ini merupakan jumlah terendah dalam sejarah perjalanan Ubaya sejak didirikan pada 1968 hingga sekarang. “Ini merupakan jumlah yang sangat menyedihkan bagi suatu perguruan tinggi swasta. Keadaan ini menimbulkan keresahan di kalangan mahasiswa serta tersebar kabar burung, Ubaya akan ditutup,” kata Harry Tanudjaja.

Merosotnya jumlah mahasiswa di saat Ubaya telah memiliki kampus sendiri, di samping menimbulkan keprihatinan , juga di luar dugaan. Ini merupakan sebuah anomali , penyimpangan dari kenormalan. Asumsi dasar normalitas yang menjadi pijakan adalah ketika sebuah PTS telah memiliki kampus sendiri – tak menumpang lagi di gedung-gedung umum, seperti bioskop, perkumpulan olahraga, gedung sekolah dasar dan menengah, dan sebagainya, sebagaimana banyak dilakukan PTS ketika itu – maka ia akan mampu menarik minat calon mahasiswa baru.

Asumsi ini ternyata tak terbukti dan nyaris membuat Ubaya bangkrut, karena jumlah mahasiswanya justru merosot tajam, sehingga kondisi keuangannya kembang-kempis. Pemilikan kampus sendiri tanpa didukung bangunan fisik memadai dan representatif ternyata tak mempunyai daya tarik cukup kuat bagi calon mahasiswa. Juga munculnya berbagai akademi yang memberikan pendidikan praktis ketika itu, ikut mengurangi animo mahasiswa baru mendaftar ke Ubaya.

“Orang melihat penampilan fisik Ubaya yang tak meyakinkan. Di Ngagel hanya ada satu bangunan, lainnya penuh alang-alang serta tumpukan sampah. Ditambah lagi, di sini sepi sekali waktu itu. Di sisi lain, berdiri beberapa akademi baru dan sejumlah PTS lainnya mendirikan kampus di tengah kota. Praktis, saat itu jumlah mahasiswa Ubaya mulai melorot,” ujar Anton.

Akibatnya, pernah terjadi calon mahasiswa diterima tanpa melalui seleksi masuk, karena jumlah pendaftar kecil. “Karena angka penerimaan mahasiswa baru terus melorot, maka mahasiswa yang mau masuk Ubaya tanpa tes. Langsung masuk kuliah. Pernah terjadi, ada anak yang mendaftar ternyata tidak lulus SMA. Ya terpaksa kemudian dikeluarkan,” kata Drs, ec. W. Hany Natawidjana, yang saat itu menjadi asisten mahasiswa, kini Pembantu Rektor III (1989-1998).

Referensi : 

SIAHAAN, Hotman M & Tjahjo Purnomo W, “Membangun Paradiagma Baru : 30 Tahun Universitas Surabaya 1968-1998″, cet. 1, Surabaya : Penerbit Universitas Surabaya, Maret 1999

Categories: Berita

Comments are closed.

Twitter updates

No public Twitter messages.

Links

  • Universitas Surabaya
  • Perpustakaan UBAYA
  • Send Mail to Pusat Arsip dan Museum UBAYA
  • Gallery Images